Kamis, 21 Agustus 2014

Cerpen Mimpi Merah Putih- Karya Syamsu

Cerpen Juara 3 "Mimpi Merah Putih" Karya Syamsu 'Yeh' 'syamsu'


Izal menendang bola lagi. Dan dalam hitungan ke-3 bola itu memasuki gawang yang kecil. Anak-anak pun memberikan tepuk tangan yang sangat meriah. Anak-anak itu adalah anak didik Izal. Izal adalah seorang pelatih sepak bola di sebuah desa. Club itu bernama Merah Putih. Sebuah nama yang sangat terinspirasi dari warna bendera Indonesia. Diam-diam, mereka sangat mengagumi negara yang kaya tapi miskin ini. Negara yang diperbudak oleh pejabat tingginya sendiri. Menyedihkan memang, tapi itulah Indonesia. Izal segera mengumpulkan anak didiknya itu dan menjelaskan tentang tehnik-tehnik menendang bola. Mungkin anak-anak tidak cukup tertarik dengan ocehah Izal, sehingga Izal memutuskan untuk mengajak mereka langsung praktek di lapangan. Mereka sangat bersemangat  sampai akhirnya, latihan pun selesai.
            Izal pun segera pulang ke rumahnya. Seperti biasa, tidak ada seorangpun yang menyambut dia, bukan karena orang rumah sibuk dengan urusanya masing-masing, tetapi Izal memang tidak mempunyai keluarga. Orang tuanya meninggal dan dia memutuskan tinggal berdua dengan adiknya. Iya, adiknya lah yang selalu menemani Izal di masa-masa sulitnya. Bagai kegelapan, adiknya seperti cahaya yang selalu menyinarinya. Adiknya yang sekarang masih duduk di bangku SMP sudah sangat mengerti kondisi kakaknya. Dia membantu izal dengan menjual Koran di trotoar. Meskipun Izal sempat melarangnya, tapi adiknya bekerja tanpa sepengetahuan Izal. Hingga akhirnya, ketika Izal sedang di luar, dia melihat adiknya sedang menjajakan koran-koran. Saat itu Izal marah besar, tapi ketika adiknya mengatakan, ”Ini untuk hidup kita kak,”  hati Izal menjadi luluh dan dia tetap membiarkan adiknya berjualan tapi tidak melalaikan sekolahnya. Meskipun adiknya sudah bisa menghasilkan uang dari jerih payahnya tetapi hal itu tidak menyurutkan semangat Izal untuk bekerja, yaitu dengan cara tadi, melatih sepak bola desa. Memang tidak seberapa hasil yang ia dapatkan tapi setidaknya itu sudah cukup untuk kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolah adiknya.
            Hari yang melelahkan di tutup ending yang sangat indah. Ketika Izal hendak tidur, Ina, adiknya menghampiri Izal, ” Kakak capek ya? Ini, Ina bawain teh buat kakak”, Izal tersenyum,
”Makasih ya dek, gimana sekolah mu?”
"Baik kok kak”, Ina menjawabnya.
"Ayolah, Ina bobok gih, besok kan harus sekolah”
Ina pun mengikuti kata-kata kakaknya itu dan kembali ke kamar dan akhirnya tidur. Seperginya Ina, izal merasa ada yang hilang dari dirinya. Meskipun Ina pergi untuk tidur, tapi dia ingin terus selalu bersama adiknya itu. Mungkin karena adiknya yang jarang di rumah. Maklumlah, setelah pulang sekolah jam 15.00 WIB, dia harus menjajakan koran sampai jam 20.00 WIB. Sungguh perjuangan yang tidak wajar untun ukuran anak seperti dia, miris memang, tapi Izal tidak bisa menyangkal kalau dia benar-benar butuh uang yang dihasilkan oleh jerih payah adiknya itu. Izal jadi teringat dengan nasib club sepak bola yang di ketuainya. Dia ingin sekali membuat baju tim sepak bolanya itu. Tapi karena dia belum mempunyai modal. Modal untuk membeli bola saja dia harus mati-matian meminta dana kepada orang tua anak-anak yang dilatihnya, memang tidak cukup dia harus mengumpulkan koran-koran bekas dan dijual untuk mencukupi kekurangan membeli bola. Meskipun seringkali Izal mendapat cibiran dari tetangganya tapi dia tetap optimis untuk keberhasilannya menciptakan sebuah club sepakbola yang sukses, ”Inilah cita-citaku, kesuksesan untuk meraih merah putih”, kalimat itu yang bisa menjadi pedoman hidup untuknya. Membayangkan tim merah pitih menerima penghargaan club terbaik akhirnya membawa dia ke alam mimpi.
            Kicauan burung dan bunyi khas jam weker membangunkannya. Suara adzan Subuh memberikan semangat dia untuk beraktifitas hari ini. Dia segera pergi ke kamar adiknya dan membangunkan Ina yang sedang larut dalam mimpi itu, mereka pun shalat Subuh berjemaah, kebiasaan yang sudah mendarah daging di kehidupan mereka
” Kakak melatih bola lagi?” adiknya bertanya sesudah shalat Subuh.
”Iya dek, kenapa?”
Ina Cuma menggelengkan kepala dan Izal tidak mengerti maksud Ina itu. Izal mencoba menebak tingkah adiknya itu, tapi tidak berhasil, itulah kehebatan Ina, iya selalu menyembunyikan sesuatu yang menjadi beban pikirak baginya. Ketika hendak berangkat sekolah, Ina langsung berangkat begitu saja tanpa pamit ke kakaknya itu, Izal merasa ada yang aneh dengan sifat Ina pagi itu. Akhirnya iya memutuskan mencari sesuatu yang ada di kamar Ina dan benar, dia menemukan kartu BP3 yang nunggak 3 bulan, miris hati Izal saat itu. Tanpa terasa ia meneteskan air mata yang tepat jatuh di kartu BP3 adiknya. Tanpa pikir panjang  dia segera keluar rumah dan mencari hal yang bisa menghasilkan uang sempat terpikir hal negative dipikiranya, tapi cepat-cepat iya membung pikiran itu, dan dia memutuskan menjadi kuli angkut  di sebuah gudang, meskipun berat tapi dia membayangkan adiknya bisa tersenyum lagi. Sore harinya dia break bekerja karena harus melatih sepakbola. Lumayan, upah kali ini bisa membiayai adiknya. Selama 2 bulan. Malam harinya Izal menemui adiknya yang sedang belajar,
” Kenapa adik gak bilang kalo BP3 sudah nunggak 3 bulan?”, adiknya tidak menjawabnya,
”Ina, biar bagaimanapun kakak ini kakakmu, masalah ina juga masalah kakak."
Sebelum Izal melanjutkan nasehatnya, Ina sudah memeluk kakaknya itu,
”Maafin Ina kak, Ina nggak bermaksud kayak gitu, Ina tau keadaan kakak sekarang Ina nggak mau nyusahin kakak, Ina nggak mau ngerepotin kakak, maafin Ina kak...”
Izal Cuma tersenyum “Dek, ini kakak ada sedikit rezeki, dan rezeki ini untuk Ina...”
Ina semakin erat memeluk kakaknya itu. Sandiwara malam itu sangat indah dan mengharukan.
            Keesokan harinya seperti biasa jam 15.00 WIB Ina menjajakan korannya, waktu itu Izal tidak tidak melatih anak-anak main bola, tiba-tiba Ina pulang terbirit-birit dan membawa sebuah koran sambil menunjukkan ke kakaknya,
”Kak, ini kak." suaranya ngos-ngosan. Tidak seperti biasanya ina seperti ini, apalagi ia pulang sebelum waktunya. Pasti ada sesuatu dan ternyata benar, koran yang ina bawa berisi berita tentang dunia olahraga. Dan disitu terpampang jelas bahwa akan diadakan pertandingan sepakbola umum se-provinsi JATIM. Benar, Izal tinggal di provinsi JATIM tepatnya di Madura. Sebuah pulau kecil namun kaya dengan hasil  lautnya, Izal pun membaca dengan seksama berita di koran itu. Tapi tiba-tiba mukanya langsung berubah muram di situ tercantum syarat-syarat peserta sepakbola. Salah satunya adalah memakai kaos tim saat pertandingan. Perasaan Izal saat itu langsung ciut, bagaimana mungkin ia bisa  mendaftarkan timnya kalau ada persyaratan seperti itu. Beruntung, Ina adiknya bisa menenangkan hati Izal.
”Kalau kakak sama tim kakak berusaha pasti kalian bisa mengikuti event itu."
Disitu ada yang optimis dan ada juga yang pesimis. Izal berusaha meyakinkan anak didiknya yang pesimis itu, ”Kita masih punya kesempatan mengikuti event ini. Meskipun ada beberapa persyaratan yang belum tentu kita bisa, tapi kita harus yakinkarena kita punya bakat. Kita punya kemampuan untuk membawa nama baik MERAH PUTIH.”
            Siasat pertama yang di atur mereka adalah persiapan pertandingan tersebut, dengan cara latihan, latihan yang mereka jalani dengan rutin bahkan hamper setiap hari. Tapi di tengah latihan ada salah seorang anak yang sepertinya kurang bersemangat. Izal pun menghampirinya  dan ketika ditanya anak itu sedang memikirkannya event se-provinsi itu,
“Bagaimana mungkin kita bisa ikut pertandingan itu kak, sampai detik kita masih belum punya baju Tim kak. Kalau keadaan kita seperti ini terus, pendaftaran aja kita sudah pasti ditolak“, ujar anak itu. Perkataan anak itu seperti petir yang menyambar di siang hari , Izal baru sadar kalau Timnya belum mempunyai baju Tim yang merupakan syarat pertama dari event itu. Izal pun menghentikan latihan kali ini. Dia pulang ke rumah dangan memikul beban berat. Sesampai di rumah ternyata Ina tidak bekerja hari ini.
”Kok kayaknya murung kak? Gimana latihannya?”
Izal tidak menjawab dan langsung masuk ke dalam kamar. Rupanya Ina mengerti dengan kebiasaan watak kakaknya itu. Ia selain kakak penyayang, Izal juga sosok tertutup. Kalau bukan keadaan yang diinginkan, dia tidak akan bicara sekecap pun (Apalagi 1000 kecap . . .he). Tapi  itulah yang membuat Ina sayang sama kakaknya. Karena sosok kakak seperti Izal yang bisa mengertinya.
Sebelum jam weaker di kamarnya berbunyi, tidak seperti biasanya Ina bangun lebih awal. Dia memang sengaja karena harus buat sarapan untuk Izal. Subuh pun tiba, dan Ina membangunkan kakaknya. Selesai shalat Subuh,
”Gimana kak istirahatnya?”
Izal Cuma tersenyum dan dia mengerti adiknya itu ingin tau penyebab muka ruwetnya semalam.
” kayaknya tim kakak tidak jadi ikut pertandingan itu deh dek.”
” masalah baju itu lagi ya kak?”
Izalpun Cuma mengangguk, Ina tersenyum, dan memberikan solusi buat kakaknya, dan Izal pun terpaksa menggunakan solusi itu. Dia menyuruh anak didiknya menjual koran-koran, hasilnya tidak seberapa dan dia memutuskan mencari pekerjaan lain. Untuk menutupi kekurangan itu. Dia bekerja sebagai tukang kuli angkut. Persis yang dilakukan ketika harus mencari uang buat membayar BP3
adiknya.

Satu hari...

Dua hari...

Tiga hari...

Sampai akhirnya...

            Izal masuk rumah sakit gara-gara kecelakaan saat dia mengangkat barang menyeberangi jalan. Izal menjadi korban tabrak lari sebuah truck. Izal harus dirawat karena keadaanya yang kritis, tangisan adiknya tidak bisa menyadarkan Izal hingga akhirnya dokter menyarankan Izal untuk diamputasi. Amputasi itulah adalah pilihan satu-satunya supaya Izal selamat. Ina dengan sangat menyesal menyetujui saran dokter meskipun dia tidak tahu harus ngomong apa nanti ketika kakaknya sudah sadar.
”Maafin Ina kak.“
Operasipun selesai, Ina tidak bisa menahan air matanya ketika Izal tau ia hidup tanpa kaki. Kaki yang bisa dijadikan satu-satunya harapan. Dan kini diganti dengan kursi roda yang siap menemaninya. Ina tidak tega melihat kondisi kakaknya itu. Tapi untunglah hati lapang dada Izal bisa menerima keadaanya saat ini. Dia tetap melatih dan membimbing anak didiknya bermain bola meskipun tanpa kaki. Dan kini dia bisa memberikan kado terindah kepada  timnya yaitu sebelas pasang baju tim sepak bola Merah Putih. Dan event sepakbola itu pun dimulai. Izal memberikan semangatnya dari atas kursi roda, meskipuk lawan dari Merah Putih tidak mudah dikalahkan secepat mungkin. Tapi tim Merah Putih bisa menghasilkan 4 gol dibandingkan tim lawanya. Tim Merah Putih membawa kemenangan buat Madura, desanya dan juga Izal. Rasa bangga Izal saat itu tidak terkendali. Dan terbisik dalam hatinya, ”Meskipun kaki aku telah aku relakan untuk Merah Putih, tapi aku sangat bahagia karena sebenarnya inilah mimpiku untukmu, 'Merah Putih'

Tidak ada komentar:

Posting Komentar